Kamis, 12 Maret 2015

Berbicara Seksualitas pada Anak Usia Dini

Pada bulan Februari, “Waktu Belajar” staf Tamarin diisi dengan berdiskusi tentang seksualitas pada anak usia dini. Diskusi ini diawali dengan mengumpulkan berbagai pertanyaan yang muncul seputar seks dalam keseharian dengan anak-anak baik di rumah atau di sekolah.

Fenomena dan pertanyaan yang muncul seputar seksualitas pada masa AUD

Seorang anak yang cukup kritis sebut saja Aya terus mengajak Ibunya untuk sholat berjama’ah. Ibu merasa kebingunan karena pada saat yang sama sedang menstruasi. Hal ini dialami langsung oleh salah satu staf Tamarin yang memiliki putri berusia 5 tahun. Beberapa pertanyaan yang lain yang dijumpai oleh staf Tamarin dalam kehidupan keseharian seputar seksualitas diantaranya:
  1. Mengapa “punya” (merujuk pada anatomi antara Ibu dan anak) adik berbeda dengan “punya” Mama?
  2.  Adik keluar dari mana?
  3.  Ibu dan mbak kok punya nenen, tapi adik kok ndak punya?
  4. Kok adik belum punya rambut?
  5. Kok cewek bentuknya gitu?

Rasanya tidak mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Hal ini terjadi karena orang tua berfikir anak masih kecil, apakah faham ketika dijelaskan. Tidak jarang orang tua juga mengalami kebingungan dalam menjelaskan karena sulit menemukan kata-kata atau bahasa sederhana untuk menjelaskan. Ragu-ragu dan tabu, karena dalam budaya kita jarang membicarakan hal-hal yang terkait dengan seksualitas.

Arti kata Seks

Seks identik dengan hal yang tabu dalam budaya kita. Padahal jika merujuk pada arti kata seks dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, seks berarti jenis kelamin atau hal yang berhubungan dengan alat kelamin. Makna yang lain memang disebutkan bahwa seks identik dengan berahi. Namun demikian makna yang pertama dan kedua terkait dengan jenis kelamin atau hal yang berhubungan alat kelamin hendaknya dijadikan pijakan oleh orang tua untuk mengedukasi anak-anaknya sehingga rasa keragu-raguan dapat dihindarkan.

Teori

Freud menyebutkan bahwa anak pada usia 18 bulan -3 tahun termasuk dalam fase anal dimana anak merasakan kenikmatan terbesar pada area lubang anus/fungsi pengeluaran. Kemudian pada masa 3-6 tahun anak memasuki fase phallic yaitu kenikmatan berfokus pada alat kelamin.

Anak laki-laki pada fase ini berfokus pada penis (terkadang sering memegangi penis) dan menunjukkan ketertarikan/afeksi pada Ibunya. Terkadang anak laki-laki menjadi marah ketika ayahnya berdekatan dengan ibunya dan seolah posesif terhadap Ibu. Hal ini dinamakan Oedipus Complex.

Sedangkan anak perempuan menunjukkan perilaku yang lebih komplek dimana terkadang menunjukkan kecemburuan karena tidak memiliki penis dan ingin selalu berdekatan ayahnya (bahkan terdapat pikiran untuk menikahi ayahnya). Hal ini dinamai Electra Complex.
Namun demikian teori yang telah dikemukakan oleh Freud ini banyak menuai pro dan kontra, dan tidak berlaku universal. Hal ini sangat dipengaruhi oleh budaya tempat individu tinggal. Karena peran laki-laki dan perempuan dalam budaya setempat memiliki keragaman.

Kesulitan dalam budaya



Berdasarkan hasil diskusi dengan mengingat pengalaman masa lampau, masing-masing staf tidak diajarkan secara langsung tentang anatomi atau seksualitas sejak kecil oleh orang tuanya. Pemahaman atau pengetahuan tentang seks ini didapatkan dari Guru BK saat SMA atau oleh kakak. Tidak jarang pengetahuan tersebut didapat dengan otodidak dari mengamati produk-produk seperti pembalut wanita atau pakaian dalam.

Tidak dapat dipungkiri dalam budaya kita menanyakan hal yang terkait dengan seksualitas masih dianggap tabu. Orang tua jaman dahulu menganggap bahwa hal tersebut akan dimengerti anak seiring bertambahnya usia dengan sendirinya. Namun demikian, pada era digital ini anak dapat menjelajah informasi tersebut dalam sekali klik. Kelemahannya adalah anak-anak kaya akan pengetahuan namun demikian tidak diimbangi dengan penjelasan terkait etika/moral menjaga diri, kepantasan bersikap, maupun sopan santun sesuai dengan seksualitas dalam adat ketimuran.

Belajar dari Budaya

Rasa tabu dan rikuh dalam budaya Jawa bukan tidak ada maksudnya. Rasa ini muncul karena pada dasarnya hal-hal terkait dengan seksualitas secara lebih spesifik hubungan laki-laki dan perempuan dianggap suatu hubungan yang sakral. Hal ini terlihat dari adat atau kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat seperti: sebaiknya bermain dengan sesama jenis dan malu ketika terlihat berdua-duaan dengan lawan jenis, adanya jam malam, atau permainan yang cocok dimainkan hanya untuk perempuan saja atau laki-laki saja. Sehingga dalam budaya kita hubungan laki-laki dan wanita secara tidak tertulis memiliki aturan tersendiri.

Saat yang tepat

Berbicara waktu yang tepat untuk memulai membicarakan seksualitas adalah saat anak mulai bertanya. Pada masanya anak akan bertanya beberapa hal yang telah disebutkan diatas. Apabila anak tidak memunculkan pertanyaan tersebut sebaiknya sedini mungkin orang tua sendiri yang mengenalkan sebelum anak menginjak masa puber. Mengingat berkembangnya teknologi informasi, pengetahuan dari orang tua langsung menghindarkan anak dari informasi yang tidak bertanggungjawab yang diperoleh anak dari dunia maya atau dari mitos atau rumor. Penjelasan orang tua sebaiknya menggunakan nama-nama ilmiah alih-alih menerangkan dengan bahasa awam atau plesetan yang digunakan untuk menamai organ vital pria/wanita.

Masa kanak-kanak adalah masa yang tepat mengenalkan anak-anak tentang seksualitas. Di Indonesia belum ada aturan yang pasti mengenai kurikulum pendidikan seks bagi AUD. Namun demikian pada jenjang PAUD beberapa hal yang dapat disampaikan terkait seksualitas, diantaranya: Tubuhku/diriku, Sentuhan yang baik dan sentuhan yang buruk, Makhluk hidup bereproduksi/berkembang biak, Keluargaku, Identifikasi perasaan tidak nyaman, dan Bullying.

Tips
  1. Ajarkan anak tentang anatomi tubuh manusia beserta dengan fungsinya. Hal ini dapat dilakukan saat aktivitas mandi. Pengenalan ini dapat dilakukan dengan menggunakan lagu-lagu yang disertai dengan informasi yang jelas dan bahasa yang sederhana. Katakan bahwa tubuhnya adalah karunia yang sangat berharga dan harus dijaga dengan baik. 
  2. Tanamkan pentingnya menjaga organ tubuh tertentu, seperti alat vital, dari sentuhan orang lain. Jelaskan siapa saja yang boleh menyentuh dan bagaimana sentuhan yang baik. Tandaskan juga bahwa alat kelamin tersebut tidak boleh dipertontonkan dengan sembarangan, dan terangkan juga jika ada yang menyentuhnya tanpa diketahui orang tua, maka si kecil harus berteriak keras-keras dan melapor kepada orang tuanya
  3. Bangun kebiasaan positif. Misalnya, tidak berganti baju di tempat terbuka, tidak pipis di sembarang tempat, dll. 
  4. Biasakan anak berpakaian sesuai identitas kelaminnya sejak dini, sehingga tidak terjadi kebingunagan identitas dan anak mengenal peran dan kodratnya.
  5. Apabila ada pertanyaan yang sulit dijawab, janjikan kepada anak bahwa Bapak/Ibu akan menjawab diwaktu lain (sambil mencari referensi) dan tepati janji tersebut.
  6. Hindarai bersikap porno. Sebaiknya melepas dan berganti pakaian di kamar mandi


Ditulis oleh:
Walida Asitasari, M.Psi., Psikolog.

Kontributor:
  1. Lia Rosalia Dewi, S.Psi.
  2. Febri Fajarini, S.Psi.
  3. Maya Rabbanita Rachmaningtyas, Amd. Keb.
  4. Sartini


Referensi:
Levine, L.E. Munsch, J. 2011. Child development: an active learning approach. SAGE Publication: California
Santrock, J,W. 2002. Life-span Development jilid 1 (terjemahan). Jakarta: Erlangga


 

Taman Bermain Anak Indonesia Copyright © 2011 Designed by Ipietoon Blogger Template and web hosting